Kamis, 02 Februari 2017

EMPLOYER BRANDING & EMPLOYEE VALUE PROPOSITION (EVP)



EMPLOYER BRANDING & EMPLOYEE VALUE PROPOSITION (EVP)
Employer Branding memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dalam menarik calon karyawan dan mempertahankan karyawan agar tetap engage di suatu perusahaan. Branding yang dibangun dan diciptakan oleh perusahaan tidak mesti berbentuk penawaran gaji yang tinggi. Jika masih berpikir gaji tinggi adalah faktor yang membuat faktor karyawan tetap engage dan komitmen terhadap perusahaan itu adalah pemikiran yang keliru. Karena, bisa saja dan sangat memungkinkan sekali kompetitor bisa menggaji lebih tinggi dari yang kita tawarkan.
Persoalannya bukan di gaji/comben. Tetapi bagaimana employer branding ini dapat membuat karyawan atau calon karyawan merasa angage dan bangga bekerja di perusahaan tersebut. Nah, untuk membangun brand perusahaan ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Misalnya, 1)Organisasi/perusahaan fokus kepada visi & misinya serta dapat menjabarkan dengan baik kepada karyawannya, 2)Perusahaan harus dapat memberikan gambaran yang baik kepada calon karyawan bagaimana sebenarnya budaya organisasi dan manfaat yang akan diterima oleh calon karyawan serta apa yang dapat diberikan untuk masa depan karyawan itu sendiri, dan 3)organisasi juga harus bisa memberikan konsistensi terhadap personality dari brand perusahaan itu sendiri yang tentunya dipengaruhi oleh pemilik atau pemimpin dari perusahaan serta memberikan gambaran kepada pihak eksternal value added apa yang diberikan oleh perusahaan tersebut dibandingkan oleh organisasi lain.
Dengan perusahaan membangun brand maka perusahaan akan mendapatkan value added, dintaranya:
1.     Interest Value: dengan adanya brand yang baik, maka ketertarikan calon karyawan terhadap merek perusahaan tersebut akan meningkat karena rasa puas serta keinginan untuk bekerja di lingkungan yang dipersepsikan dari brand tersebut.
2.     Social Value: Calon karyawan akan memiliki persepsi bahwa lingkungan kerja atau teman-teman kerja merupakan tim yang berkualitas serta mempunyai atmosfir yang baik.
3.     Economic Value: Tentunya muncul ketertarikan terhadap manfaat yang diperoleh dari sisi pendapatan gaji, banus dan lainnya.
4.     Development Value: Muncul harapan di perusahaan yang mempunyai brand yang baik tentunya akan dikenal serta diakui untuk hasil kerjanya serta kesempatan untuk pengembangan karir.
5.     Applicant Value: Ketertarikan ini dapat diperoleh bagi para calon karyawan yang ingin belajar ilmu lebih banyak serta mengaplikasikannya untuk mengajari orang lain serta berinteraksi dengan para pelannggannya.
Tidak cukup membangun merek perusahaan (employer branding) di mata karyawan maupun calon karyawan, tetapi juga mampu membangun employee value proposition (EVP). EVP adalah suatu janji yang diberikan kepada para karyawannya maupun pihak-pihak stakeholder mengenai apa yang akan diberikan dari merek tersebut. EVP adalah semacam perspektif karyawan di dalam suatu perusahaan yaitu “Ada manfaat apa untuk diri saya jika bekerja di perusahaan ini”.
Value proposition ditawarkan dalam berbagai bentuk misalnya dengan bekerja di perusahaan ini maka karyawan akan memperoleh banyak benefit tidak hanya secara financial tetapi juga non-finansial. Tidak hanya dari segi kompensasi & benefit tetapi juga pengembangan diri, pengembangan professional, kesempatan belajar, kualitas hidup, keseimbangan kehidupan dan kerja, pengembangan karir, lingkungan kerja yang nyaman dan aman, nilai-nilai & filosofi kebaikan perusahaan, dan seterusnya.
Mungkin itulah yang dilakukan perusahaan-perusahaan sekaliber GE, IBM, Unilever, Astra dan Citibank menciptakan, mambangun dan mengembangkan merek perusahaan (employee branding) dan tidak lupa menawarkan value proposition yang tidak hanya berorientasi pada gaji, melainkan berorientasi pada pengembangan-pengembangan non-finansial yang sangat membantu karyawan dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi dirinya.
*Materi tulisan diambil dari berbagai sumber

Rabu, 01 Februari 2017

PERAN TRAINING DALAM PENGEMBANGAN SDM

PERAN TRAINING DALAM PENGEMBANGAN SDM

Training atau pelatihan atau Learning adalah kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan baik dalam kelas maupun diluar kelas pada seseorang atau sekelompok orang bertujuan untuk menghilangkan GAP atau perbedaan antara kemampuan yang sekarang dimiliki dengan kemampuan standard yang ditetapkan. Proses pelaksanaannya ialah mempelajari dan mempraktekkan dengan menuruti standard acuan tertentu atau prosedur sehingga menjadi kebiasaan yang pada hasilnya nanti terlihat adanya perubahan, perbaikan ditempat kerja.

Banyak cara orang dalam belajar untuk memahami sesuatu. Pertama ialah belajar sendiri tanpa didampingi instruktur atau mentor dengan cara membaca buku dan dokumen tertentu, memutar video ataupun melalui internet.
Kedua ialah belajar dengan disertai instruktur dilakukan di Kelas (in-door), di tempat kerja atau On Job Training (OJT) ataupun diluar ruangan kelas (out door) semisal kegiatan out bound training.
Ketiga ialah mencoba melakukan sendiri di tempat kerja baik dengan tanpa instruktur, in-door maupun out-door.

Mengapa training diperlukan?
1. karyawan tidak mempelajari hal-hal yang sesuai kehendak kita
2. mereka tidak mempelajari cara-cara terbaik yang kita kehendaki dalam melaksanakan tugas
3. mereka perlu diingatkan setiap saat tentang cara kerja dan sikap perilaku yang benar.

Kapan training diperlukan?
1. Adanya karyawan baru
2. Adanya penerapan system, teknologi dan peralatan baru
3. Prestasi kerja dibawah standard
4. Perlu mengadakan penyegaran
5. Rencana perluasan organisasi

Apa manfaat training bagi perusahaan?
1. Memiliki tenaga kerja yang ahli dan terampil
2 Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja
3. Meningkatkan produktivitas kerja
4.Mengurangi biaya karena waktu yang terbuang akibat kesalahan-kesalahan
5. Meningkatkan mutu hasil kerja
6. Meningkatkan keuntungan
7. Mempunyai karyawan yang senantiasa termotivasi dan merasa memiliki perusahaan sehingga membantu peningkatakan image positif perusahaan.

Apa manfaat bagi karyawan?
1. Mengurangi waktu yang digunakan untuk belajar
2. Pengetahuannya naik juga keterampilannya
3. Meningkatkan rasa percaya diri
4. Meningkatkan kepuasan kerja
5. Lebih termotivasi untuk meraih prestasi

Apa manfaat bagi anda para atasan/ manager departemen?
1. Memiliki anak buah yang terampil
2. Dapat mendelegasikan lebih banyak tugas dan tanggung jawab bawahan
3. Terlepas dari pekerjaan hal-hal kecil yang bukan porsinya utk ditangani
4. Tugas dan pekerjaan berjalan lancar, walaupun anda tidak ada ditempat
5. Menunjang karir anda untuk memperoleh jabatan lebih tinggi
6. Meningkatkan keloyalan dan rasa hormat bawahan kepada anda

Apa yang dimaksud training telah berhasil?
Training yang berhasil ditandai dengan adanya sebuah fakta dan data yang menyatakan bahwa semua ex-peserta training telah menerapkan semua keterampilan yang dipelajari dalam program training yang telah diikutinya di tempat kerja.

TRAINING BASED ON COMPETENCY

Training Based on Competency

Pelatihan ini berdasarkan suatu sasaran perilaku yang akan dituju, cakap dalam melakukan sesuatu sesuai harapan. Kompetensi secara umum diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam hal pengetahuan, skil keterampilan dan sikap kerja (Skill, Knowledge, Attitude).
Kalo saya biasanya mengingatnya dengan; Kepala, Tangan & Hati.
Skill = Hand (Tangan); ngukurnya paling gampang, mampu dipraktekkan dan dilihat.
Knowledge = Head (Kepala); ngukurnya agak gampang, harus diuji; wawancara/ tes tulis.
Attitude = Heart (Hati); ngukurnya rada sulit, penuh dengan psycological activities; assesment center dll.

"Si-Andi staf Maintenance, orangnya cakap menangani masalah perpajakan, mampu menjalankan SOP/ WI, pencapaian kinerjanya bagus. Namun dia sering pemarah, temperamental, reaktif. Walaupun punya perilaku seperti itu, namun toh pencapaian kinerjanya bagus. So whatt??" 

Maka, kompetensi perilaku memang sering tidak berhubungan dengan pencapaian kinerja kuantitatif seperti volume produksi, breakdown mesin, efisiensi biaya, dsb. Si Andi skillnya oke, pengetahuannya mantab hanya perilakunya yang kurang.

Kembali ke pokok bahasan tentang Competency. Mengapa Training Competencies Based ini diperlukan ? Sebab secara individual perlu diukur kemampuannya (ada dimana dia saat ini ?), Apa yang diperlukan organisasi untuk bertumbuh dan siapa saja yang ada didalam team untuk mencapai itu? Dan pemetaan kemampuan kerja adalah cara terbaik untuk tahu, kekuatan dan kelemahan yang perlu diperbaiki untuk mencapai sasaran organisasi.

Untuk menghasilkan produk yang berkualitas, hasil kerja produktif dan efektif dalam penggunaan sumber daya memerlukan pekerja yang handal, pekerja yang mumpuni, pekerja yang terampil. Terampil disini bermakna SKILL-full. Ahli dalam pekerjaannya. Untuk menentukan apakah benar pekerja yang bekerja di sebuah mesin dengan aktivitas tertentu itu terampil, perlu adanya Jobs Analysis yang ditekankan pada penilaian kemampuan dalam terampil bekerja. Kemampuan dalam terampil bekerja dibandingkan dengan tuntutan pekerjaan itu berdasar pada Daftar Pekerjaan dan Ketrampilan yang dibutuhkan, dengan melihat kontek rencana bisnis.


Celah perbedaan disebut gaps, yaitu gas competencies. Dan ini dituangkan dalam daftar dan peta kemampuan penguasaan pekerjaan (competencies Mapping). Tindaklanjutnya adalah diadakannya Pelatihan dan pengembangan dengan bentuk :
1. Program Pelatihan (formal dalam kelas dan jobs training)
2. Coaching face to face, sesuai prioritas kerja dan aktivitas yang ada (Dynamic Coaching)
3. Diskusi kelompok dalam kegiatan pemecahan masalah, improvement action dan Gugus Mutu/ QCC.
4. Proyek-proyek improvement, pengembangan kapasitas, pengembangan produk…
5. Proses delegasi dan suksesi
6. Bulletin, Majalah informasi tentang pekerjaan, Program Mentoring


PENGUKURAN GAP KOMPETENSI
Gap kompetencies (kelemahan obyek) data primernya ialah dari atasan langsungnya selaku user, dan data sekunder ialah dari ujian sertifikasi kompetensi, rekan kerjanya dan data pencapaian target kerja (Performance Contract). Dia (object karyawan), akan dinilai semua hal kemampuan yang sepatutnya harus dimiliki. Nilai yang sederhana ialah bentuk sekala 1 s.d 5:

1=Tidak tahu, salah dalam menjawab pertanyaan
2=Menjawab dengan jawaban dasar (basic principles)
3=Menjawab dengan disertai alasan yang bersifat mendasar dan mampu mendemonstrasikan keahliannya.
4=Menjawab dengan baik, mampu mendemonstrasikan dan menjelaskan "Do's and Don't" (Apa yang tidak boleh dan apa yang harus dilakukan), mampu menganalisa masalah.
5=Menjawab dengan baik, mampu mendemonstrasikan da menjelaskan "Do's and Don't", menganalisa masalah dan melakukan inovasi/improvement, mampu melatih orang lain dan menjelaskan hal-hal apek mutu dan performance dari sebuah kegiatan.

Treatment yang pas untuk setiap pencapaian nilai (level) ialah:
1=Beginning, Training dalam kelas dan praktek yang terstruktur dan ketat (Karyawan baru)
2=Training, Pelatihan dalam kelas dan diluar kelas (praktek) oleh pihak Training departement/ pihak luar yang kompeten dan juga Atasan langsung jika memungkinkan.
3=Coaching, Face to face, nah... ini murni peran senior/ Atasan untuk mendevelopnya.
4=Monitoring, memonitor perkembangannya dan mulai lakukan pendelegasian kerja. 
ini murni peran senior/ Atasan untuk mendevelopnya.
5=Delegasi tugas-tugas yang menantang untuk pengembangan diri. Umumnyat tidak butuh program pelatihan.

Jadi peran lembaga pelatihan umumnya hanya "mengobati" pada pasien yang berlevel 1 dan 2 saja. Sedangkan untuk level 3 dan 4 murni atasan dan lingkungan yang akan mendidik dan mengembangkannya.

RENCANA PROYEK
Untuk pelaksanaan training based on competencies, urutan kegiatan sbb:
1. Menentukan sasarn posisi, misal Tukang Kebun.
2. Menguraikan ketrampilan apa saja yang wajib dimiliki, Misal ada 3 yaitu; Penanaman, Pemupukan, Perawatan daun & batang.
3. Meminta "user" atasan untuk menentukan standard nilainya. Misal; Penanaman=4, Pemupukan=3, Perawatan=4.
4. Meminta atasan menilai kondisi aktual saat ini, berdasar pengamatan sehari hari.
5. Analisa GAP, dari tiga kompetensi wajib diatas, mana yang tidak mencapai target.
6. Validasi dengan melakukan ujian tulis dan wawancara sebagai data sekunder oleh pihak HRD/Training.
7. Finalisasi nilai bersama atasan.
8. Buat program pelatihan terutama untuk yang bernilai 1 dan 2. Dan program coaching untuk yang berlevel 3, misal penugasan untuk merangkum buku tentang Tanaman Bunga lalu membuat presentasi adalah salah satu treatment dalam orang yang berada dalam level 3.
9. Ukur efektifitas program pelatihan apakah telah efektif "mengobati" kelemahan karyawan.

CHANGE AGENT CONTINUOUS IMPROVEMENT

CHANGE AGENT CONTINUOUS IMPROVEMENT 

Pengertian Agen Perubahan (Agent of Change) :
Adalah individu atau seseorang yang bertugas mempengaruhi target / sasaran perubahan/ Change Target,
agar Change target mengambil keputusan sesuai dengan arah yang dikehendaki oleh Change Agent/ Perusahaan.

Peran Agen Perubahan:
Agen Perubahan menghubungkan antara sistem baru/ Nilai prilaku baru/ pola pikir baru, dll dengan kondisi saat ini yang menjadi target
perubahan. Kemampuan krusial sebagai Agen Pengubah ialah keterampilan komunikasi sebagai alat strategis bagi tercapainya suatu
perubahan di SPIL, sehingga dapat dikatakan fondasi kesuksesan Change Agent ialah Communication Skill. Seorang Agen Perubahan sebagai role model (panutan) bagi individu-individu disekitarnya bahkan menjadi narasumber/ rujukan terhadap suatu tindakan.

Kompetensi Agen Perubahan:
1. High analytical thinking
2. Fast learning
3. Influencing
4. Team Work

Sederhananya,
Change Agent Improvement mempunyai kemampuan analisa yang tinggi, pendengar yang baik, mediator yang cakap, open mind, arsitek/ conceptor, mampu menjadi guru/ pelatih, memahami dan kekeh pada tujuan akhir, dan mampu mendeskripsikan kegiatan untuk mencapai tujuan. Dia haus akan ilmu dan semangat untuk berbagi. Dia juga coach yang bijak, memahami cara berkomunikasi yang dapat merangkul semua pihak. Dia juga Respek terhadap semua orang dan jika berdekatan dengannya, orang lain akan nyaman dan bahagia bersamanya.

Filosofi bekerja Change Agent:
Dia memandang bahwa Kerja adalah Rahmat; Dia Bekerja Tulus Penuh Rasa Syukur.  Pandangannya pada pekerjaan adalah Amanah; dia Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab. Dia Bekerja Tuntas Penuh Integritas, karena baginya Kerja adalah Panggilan. Kerja adalah Aktualisasi; Dia Bekerja Keras Penuh Semangat. Dia Bekerja Serius Penuh Kecintaan karena Kerja adalah Ibadah. Dia Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas, karena baginya kerja adalah seni. Kerja adalah Kehormatan; Dia Bekerja Tekun Penuh Keunggulan dan terakhir pandangannya ialah Kerja adalah Pelayanan; Dia Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati.

20 JENIS KOMPETENSI - SPENCER & SPENCER

20 JENIS KOMPETENSI - SPENCER & SPENCER

Sebagai rujukan membangun/ menetapkan kompetensi karyawan, sumber dari Spencer&Spencer bisa jadi rujukan. Adai dua puluh jenis kompetensi, selanjutnya pilih mana yang cocok dalam mendukung visi misi dan budaya organisasi anda. Tapi masalahnya sering terjadi, Visi - Misi organisasi sering "kabur" malah mungkin tidak ada, apalagi nilai-nilai organisasi yang dipercaya (Values) dideklarasikan untuk di anut sering tidak ada. Mungkin ada tetapi hanya dalam laci-laci pimpinan puncak saja.

20 generic competencies dari Competence at Work, Spencer & Spencer 1993):

  1. Achievement orientation, (ACH)
  2. Concern for order, (CO)
  3. Initiative, (INT)
  4. Information seeking, (INFO)
  5. Interpersonal understanding, (IU)
  6. Customer service orientation, (CSO)
  7. Impact and influence, (IMP)
  8. Organizational awareness, (OA)
  9. Relationship building, (RB)
  10. Developing others, (DEV)
  11. Directiveness, (DIR)
  12. Teamwork, (TW)
  13. Team Leadership, (TL)
  14. Analitical thinking, (AT)
  15. Conceptual thinking, (CT)
  16. Expertise, (EXP)
  17. Self-control, (SCT)
  18. Self-confidence, (SCF)
  19. Flexibility, (FLX)
  20. Organizational commitement, (OC)
Kompetensi itu sendiri menurut Lyle M. Spencer dan Signe M. Spencer , disebutkan bahwa kompetensi merupakan bagian dalam dan selamanya ada pada kepribadian seseorang dan dapat memprediksikan tingkah laku dan performansi secara luas pada semua situasi dan job tasks.
A. ACHIEVEMENT & ACTION /MERENCANAKAN & MENGIMPLEMENTASIKAN
1. KOMPETENSI SEMANGAT UNTUK BEPRESTASI atau UNTUK MENCAPAI TARGET KERJA ( ACHIEVEMENT ORIENTATION, ACH)
Definisi :
Derajat kepedulian seseorang terhadap pekerjaannya sehingga ia terdorong berusaha untuk bekerja dengan lebih baik atau di atas standar
Mencakup :
Bekerja untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh manajemen
Menetapkan dan bertindak dalam meraih sasaran diri sendiri dan orang lain
Fokus pada perbaikan
Pengoptimalan dalam penggunaan sumber daya
Melakukan perhitungan terhadap resiko enterpreneurial
2 . KOMPETENSI PERHATIAN TERHADAP KEJELASAN TUGAS KUALITAS DAN KETELITIAN KERJA ( CONCERN FOR ORDER, CO)
Definisi :
Dorongan dalam diri seseorang untuk memastikan / mengurangi ketidakpastian khususnya berkaitan dengan penugasan, kualitas dan ketepatan / ketelitian data dan informasi di tempat kerja
Terdiri dari :
Mengawasi & memeriksa informasi
Perhatian terhadap kejelasan, kepastian
Keinginan untuk mengurangi ketidakpastian
3. KOMPETENSI PROAKTIF (INITIATIVE, INT)
Definisi:
Dorongan bertindak untuk melebihi yang dibutuhkan atau yang dituntut oleh pekerjaan / lingkungan melakukan sesuatu tanpa menunggu perintah lebih dahulu,tindakan ini dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil pekerjaan atau
menghindari timbulnya masalah atau menciptakan peluang baru.
Terdiri dari:
Tidak menyerah terhadap suatu penolakan
Mengenali & memanfaatkan peluang – peluang
Memiliki performansi lebih dari yang diharapkan pekerjaan
Mengantisipasi dan meyiapkan peluang & masalah
4.KOMPETENSI MENCARI INFORMASI ( INFORMATION SEEKING,INFO)
Definisi :
Besarnya usaha tambahan yang dikeluarkan untuk mengumpulkan informasi lebih banyak sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan dan pengambilan keputusan
Mencakup :
Mencari informasi yang tepat , Memilih peluang-peluang potensial yang mungkin berguna dimasa yang akan datang, berkeliling melihat situasi kerja
B. HELPING AND HUMAN SERVICE /MELAYANI
5.KOMPETENSI EMPATI (INTERPERSONAL UNDERSTANDING, IU)
Definisi :
Kemampuan untuk memahami hal hal yang tidak diungkapkan dengan perkataan yang bisa berupa atas pemahaman perasaan , keinginan atau pemikiran dari orang lain.
Mencakup Mendengarkan
Respon dengan orang lain
Sadar perasaan orang lain
Cara Pemahaman.
6.KOMPETENSI BERORIENTASI KEPADA PELANGGAN (CUSTOMER SERVICE ORIENTATION, CSO)
Definisi :
Keinginan untuk membantu atau melayani pelanggan / orang lain.
Pelanggan adalah pelanggan yang sesungguhnya atau rekan pemakai hasil kerja kita.
Mencakup :
Mencari informasi kebutuhan pelanggan dan menyesuaikan dengan produk atau jasa
Mengambil tanggung jawab pribadi untuk menyelesaikan masalah pelayanan kepada pelanggan
Bertindak sebagai seorang penasehat terhadap kebutuhan dan masalah pelanggan
Bekerja dengan pandangan jangka panjang dalam mengenali masalah pelanggan
C. MEMIMPIN
7. KOMPETENSI DAMPAK & PENGARUH (IMPACT AND INFLUENCE, IMP)
Definisi :
Tindakan, membujuk, meyakinkan mempengarui orang lain sehingga mau mendukung rencana kita.
Terdiri :
Mengantisipasi pengaruh suatu tindakan terhadap pandangan orang lain
Menggunakan alasan , fakta , data-data , contoh nyata dan demonstrasi.
Melakukan koalisi politis dan memberikan informasi untuk memperoleh pengaruh tertentu
Menggunakan ketrampilan kelompok dalam memimpin suatu kelompok
8. KOMPETENSI : KESADARAN BERORGANISASI (ORGANITATIONAL AWARENESS,OA)
Definisi :
Kemampuan untuk memahami dan mempelajari kekuasaan dalam organisasi sendiri maupun organisasi lain (pelanggan, penyalur, dll.). Termasuk didalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi siapa pengambil keputusan yang sebenarnya dan individu yang memiliki pengaruh kuat.
Mencakup :
Memahami struktur Organisasi informal
Mengenali batasan-batasan organisasi yang tidak terlihat
Mengenali masalah dan peluang yang mempengaruhi organisasi
9. KOMPETENSI : MEMBANGUN HUBUNGAN KERJA (RELATIONSHIP BUILDING) RB
Definisi :
Besarnya usaha untuk menjalin dan membina hubungan sosial atau jaringan hubungan sosial agar tetap hangat dan akrab
Terdiri :
Membangun hubungan dengan banyak orang
Membagi informasi pribadi untuk menciptakan dukungan / empati
D. MANAGERIAL /MENGELOLA
10. KOMPETENSI MENGEMBANGKAN ORANG LAIN (DEVELOPING OTHERS, DEV)
Definisi : Keinginan untuk mengajarkan atau mendorong pengembangan atau proses belajar orang lain
Terdiri :
Menunjukkan harapan positif kepada orang lain
Memberikan arahan dan demonstrasi, yang merupakan strategi pelatihan
Memberikan umpan balik negatif kepada perilaku seseorang yang buruk
Mengidentifikasi & merancang program baru untuk kebutuhan pelatihan
Mendelegasikan tanggung jawab atau pekerjaan dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan orang lain
11. KOMPETENSI KEMAMPUAN MENGARAHKAN /MEMBERIKAN PERINTAH (DIRECTIVINESS, DIR)
Definisi :
Kemampuan memerintah dan mengarahkan orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai posisi dan kewenangannya
Terdiri dari :
Menghadapi masalah performansi orang lain dengan terbuka
Menetapkan standar dan kualitas
Menolak permintaan yang tidak masuk akal
Memberikan arahan yang rinci
12.KOMPETENSI KERJA SAMA KELOMPOK (TEAM WORK), TW
Definisi :
Dorongan atau kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain; dorongan atau kemampuan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok dalam melaksanakan suatu tugas
Terdiri dari :
Meminta ide dan pendapat dalam mengambil keputusan atau merencanakan sesuatu.
Menjaga orang lain tetap memiliki informasi dan hal-hal baru
tentang proses dalam kelompok, dan membagi informasi yang relevan.
Memperlihatkan harapan positif kepada orang lain.
Menghargai orang lain yang berhasil.
Mendorong orang lain dan membuat mereka merasa penting.
13. KOMPETENSI MEMIMPIN KELOMPOK ( TEAM LEADERSHIP, TL)
Definisi:
Dorongan dan kemauan untuk berperan sebagai pemimpin kelompok, biasanya ditunjukan dalam posisi ortoritas formal
Terdiri dari:
Memberikan informasi
Melakukan usaha untuk memperlakukan anggota kelompoksecara adil
Menggunakan strategi komplek untuk mendorong moral danproduktivitas kelompok
Memastikan bahwa kebutuhan kelompok terpenuhi
Menjamin orang lain masuk ke dalam misi, sasaran, dankebijakan pimpinan
E. COGNITIVE /BERPIKIR
14. KOMPETENSI BERPIKIR ANALITIS (ANALITICAL THINKING, AT)
Definisi:
Kemampuan untuk memahami situasi dengan cara memecahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih rinci
(faktor-faktor), atau mengamati keadaan tahap demi tahap berdasarkan pengalaman masa lalu.
Terdiri dari:
Menetapkan prioritas pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingan
Membagi pekerjaan yang rumit menjadi bagian-bagian Mengenali penyebab suatu kejadian
15. KOMPETENSI BERPIKIR KONSEPTUAL (CONCEPTUAL THINKING, CT)
Definisi :
Kemampuan memahami situasi atau masalah dengan cara memandangnya sebagai satu kesatuan yang intrigitas mencakup kemampuan mengidentifikasi ; pola keterkaitan antara masalah yang tidak tampak dengan jelas atau kemampuan mengidentifikasi permasalahan yang utama yang mendasar dalam situasi yang komplek.
Meliputi :
Menggunakan logika dan pengalaman masa lalu dalam mengenali masalah
Melihat perbedaan antara situasi dan hal-hal yang pernah terjadi sebelumnya
Mempraktekkan & memodifikasi konsep atau metoda yang pernah dipelajari
Mengidentifikasi hubungan dalam data
16. KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIKAL / PROFESIONAL/MANAJERIAL (EXPERTISE, EXP)
Definisi : Penguasaan bidang pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan (dapat teknik, manajerial maupun profesional),dan motivasi untuk menggunakan , mengembangkan dan membagikan pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan kepada orang lain.
Terdiri dari :
Menjaga ketrampilan dan pengetahuan
Menunjukkan ketertarikan pada suatu bidang tertentu
Bersedia mendorong orang lain dalam menyelesaikan masalah teknis
Belajar hal-hal baru yang berhubungan dengan pekerjaan
Menyebarkan teknologi baru secara aktif
F. PERSONAL EFFECTIVENESS/BERSIKAP DEWASA
17.KOMPETENSI PENGENDALIAN DIRI (SELF- CONTROL,SCT)
Definisi:
Kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga mencegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang negatif pada saat ada cobaan, khususnya menghadapi tantangan atau penolakan dari orang lain atau pada saat bekerja dibawah tekanan
Mencakup :
Tidak mudah marah
Menolak keterlibatan yang tidak perlu
Tetap tenang dalam situasi yang rumit
Memiliki respon yang baik dalam menghadapi suatu masalah
18. KOMPETENSI PERCAYA DIRI (SELF-CONFIDENCE,SCF)
Definisi :
Keyakinan orang pada kemampuan diri sendiri untuk/menyelesaikan suatu tugas / tantangan / pekerjannya..
Terdiri :
Melakukan tindakan meskipun ditentang orang lain
Merupakan pribadi yang percaya diri
Memiliki kepercayaan akan penilaian atau kemampuan sendiri
Menyatakan suatu posisi yang jelas dan percaya diri terhadap orang lain
Bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat
Belajar dari keksalahan, menganalisis performansi dan mau memperbaikinya
19. KOMPETENSI FLEKSIBILITAS (FLEXIBILITY,FLX)
Definisi :
Kemampuan menyesuaikan diri dan bekerja secara efektif pada
berbagai rekan atau kelompok yang berbeda; kemampuan untuk
memahami dan menghargai perbedaan , pandangan dan
pertentangan atas suatu isu.
Meliputi :
Mengenali kebenaran pendapat orang lain
Mudah beradaptasi terhadap perubahan pekerjaan
Menerapkan peraturan secara fleksibel
Mengubah perilaku sesuai dengan situasi
20. KOMPETENSI KOMITMEN TERHADAP ORGANISASI (ORGANITATIONAL COMMITMENT,OC)
Definisi :
Dorongan dan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan organisasi, untuk bertindak dengan cara yang menunjang tujuan organisasi atau memenuhi kebutuhan organisasi
Mencakup :
Bersedia membantu teman sekerja dalam menyelesaikan pekerjaan
Menggabungkan aktivitas pribadi untuk memenuhi kebutuhan organisasi
Memahami kebutuhan kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih besar
Memilih untuk memenuhi kebutuhan organisasi daripada mengejar kepentingan sendiri

MENGENAL QCC (QUALITY CONTROL CIRCLE)

MENGENAL QCC (QUALITY CONTROL CIRCLE)

Salah satu karakteristik dasar yang membedakan TQM dari sistem manajemen lainnya, adalah dikembangkannya pola pengendalian mutu yang mandiri dan terpadu di semua unit usaha dan sektor kegiatan perusahaan/organisasi.

Dikatakan ”Pengendalian yang Mandiri”, karena pengendalian mutu tidak hanya dilakukan oleh QC Team/QC Managers atau Satuan Pengawas Intern, melainkan menjadi tanggung jawab setiap individu di perusahaan/organisasi untuk mengendalikan mutu kerja dan hasil kerjanya masing-masing, agar tidak menyimpang dari komitmen dan standar yang telah disepakati bersama.


Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan Jepang yang memiliki tenaga kerja + 1.000 orang dan telah menerapkan TQM, mempunyai departemen QC (Quality Control) dengan jumlah tenaga pengawas sebanyak 100 orang. Namun, para Eksekutif perusahaan tersebut selalu mengatakan bahwa sesungguhnya mereka mempunyai 1.000 orang tenaga pengawas, karena pengendalian mutu (Quality Control) memang tidak hanya dilakukan oleh 100 orang itu saja, melainkan oleh semua karyawan perusahaan tersebut.

Dikatakan juga ”Pengendalian yang Terpadu”, karena pengendalian mutu disetiap unit kerja dan sektor kegiatan perusahaan/ organisasi dilakukan dengan satu tujuan yang sama, yakni menghasilkan suatu ”Kepastian Mutu” (Quality Assurance), dengan berpedoman pada ”Kebijakan Mutu” (Quality Policy) yang telah ditetapkan oleh perusahaan/organisasi.

Pada dasarnya setiap orang yang terlibat dalam kegiatan organisasi sesungguhnya mempunyai ”Fungsi Ganda” dalam pekerjaannya, yang biasa disebut dengan (1) Daily Function dan (2) Improvement Function, yaitu fungsi kerja rutin dan fungsi peningkatan mutu, yang dilakukan secara simultan.

Keberadaan ”Improvement Work” inilah yang mendorong tumbuh kembangnya dinamika kelompok pada perusahaan-perusahaan penerap TQM.
Secara umum bentuk-bentuk tim tersebut, dapat dilihat dibawah ini:

1. Tim Lintas Fungsi (Cross Functional Team)

Yang termasuk dalam kategori ini adalah:
a. Tim Manajemen Mutu (kelompok yang terdiri dari para Pimpinan Puncak dan Menengah).
b. Projek Kendali Mutu (QC Project yang terdiri dari para karyawan berbagai bagian/divisi).

2. Quality Control Circle

Adalah salah satu bentuk pengendalian mutu pada tingkat pelaksana. Bila didefinisikan, maka Quality Control Circles dapat dijelaskan sebagai berikut:

Adalah Kelompok yang terdiri dari beberapa karyawan (3-10 orang), pada suatu unit kerja yang sama di sebuah perusahaan, yang melaksanakan program perbaikan atau peningkatan mutu, dengan menggunakan metoda pemecahan ”PDCA Cycle” secara berkesinambungan, dan bertujuan memberikan ”Kepuasan Pelanggan” yang optimal, hal mana juga memberikan kepuasan bagi anggota kelompok itu sendiri.

SASARAN DAN MANFAAT

Faktor utama yang menjadi landasan penerapan TQM adalah ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA, maka dasar pemikiran diciptakannya pendekatan QCC ini banyak dipengaruhi oleh teori-teori tentang manusia, seperti misalnya teori X dan Y dari Mc. Gregor, teori motivasi dari Herzberg dan teori Jenjang kebutuahan manusia oleh Abraham Maslow yang terkenal itu.

Pembangunan Manusia yang Seutuhnya atau PEOPLE BUILDING, itulah falsafah yang mendasari pembentukan QCC, yakni suatu bentuk penghargaan terhadap Manusia yang dalam hal ini para karyawan pelaksana. Karena melaksanakan program QCC, berarti memberi kesempatan kepada mereka untuk sejenak mengambil jarak dari pekerjaan rutinnya, dan mencoba mengevaluasi proses dan hasil kerjanya, memikirkan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerjanya, membuat keputusan-keputusan penting yang berhubungan dengan pekerjaannya. Semua itu menunjukkan bahwa mereka diperlakukan sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai robot yang bekerja tanpa pikiran dan perasaan.

Disamping itu, penerapan QCC juga merupakan bentuk nyata keterlibatan semua pihak, dalam hal ini mereka yang berada pada manajemen tingkat bawah, dalam peningkatan dan pengembangan perusahaan/organisasi.

Hal positif yang juga akan tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kegiatan QCC, adalah terciptanya suasana kerja yang sangat kooperatif dan mendorong karyawan untuk terus-menerus menggali kreatifitas dan potensi yang dimilikinya.

SASARAN yang ingin dicapai melalui kegiatan QCC, antara lain:
1. Mengurangi kesalahan kerja dan meningkatkan mutu.
2. Meningkatkan kerja sama yang lebih baik.
3. Meningkatkan kepedulian karyawan dalam menjalankan tugasnya.
4. Melatih ketrampilan karyawan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
5. Menanamkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan sejak awal.
6. Mengembangkan hubungan yang lebih harmonis dan komunikatif antara manajer dan karyawannya.
7. Mendorong pengembangan pribadi dan kepemimpinan.

Sedangkan MANFAAT bagi karyawan dengan adanya kegiatan QCC adalah:
a. Diperolehnya peningkatan pengetahuan dan kemampuan pribadi.
b. Tumbuhnya kemampuan pengendalian diri.
c. Mampu berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.
d. Memahami dan mampu menggunakan teknik-teknik pengendalian mutu.
e. Peningkatan kreatifitas.
f. Mengembangkan cara berfikir yang kritis, serta kesadaran pentingnya mutu.


QUALITY CONTROL CIRCLE MANAGEMENT

Sebelum memulai pembentukan QCC – QCC, sebuah perusahaan/organisasi haruslah terlebih dulu menyediakan sarana yang memadai agar kegiatan QCC dapat terkoordinasi dan berkembang dengan baik, dan tidak menjadi ”fashion” yang hanya digemari sesaat saja.
Perlu disadari oleh manajemen, bahwa kesinambungan gerakan ini hanya dapat terjamin bila dikelola secara profesional dan konsisten.

Sehubungan dengan hal tersebut, syarat mutlak yang harus dipenuhi agar kegiatan QCC dapat tumbuh dan terus berkembang adalah:
  1. Adanya Struktur Organisasi dan Badan Pembina / Pengelola kegiatan penerapan TQM secara keseluruhan. (lihat gambar contoh struktur organisasi TQM).
  2. Penunjukkan beberapa orang yang mampu menjadi Fasilitator QCC.
  3. Pengadaan fasilitas yang menunjang pengembangan kegiatan QCC, seperti misalnya penyediaan ruang rapat, alat-alat bantu presentasi dan lain sebagainya.
  4. Keterlibatan aktif, baik manajemen yang membawahi langsung para karyawan yang membentuk QCC tersebut, maupun manajemen ditingkat yang lebih tinggi.
  5. Menciptakan wadah pembelajaran bagi keberhasilan-keberhasilan yang dicapai, maupun pemecahan masalah bila dihadapkan pada kendala dalam kegiatannya. Misalnya dengan menyelenggarakan acara-acara presentasi QCC secara rutin, pertemuan-pertemuan antar QCC, Fasilitator dan Badan Pembina, atau bahkan penyelenggaraan Konvensi tahunan.
  6. Menyusun program pelatihan dan pendidikan TQM, bagi mereka yang memerlukan.

PENYAKIT INFEKSI OTAK

Infeksi otak bisa menyerang siapa saja mulai dari balita hingga orang dewasa yang dapat berakhir dengan kecacatan atau kematian. Orang-orang yang rentan terkena infeksi otak: 1. Anak-anak 2. Orang dengan daya tahan tubuh rendah 3. Orang yang sudah berusia lanjut.

"Jika daerah yang terkena infeksi adalah selaput otak (meningen) maka disebut dengan meningitis, tapi kalau yang terinfeksi adalah jaringan otaknya maka disebut dengan
ensephalitis," ujar dr Darma Imran, SpS(K) dari FKUI-RSCM dalam diskusi klinik KBR68H, Jakarta.

Dari info yang saya dapatkan bahwa keluarga saya ini terinfeksi virus Pneumoccocus mengakibatkan infeksi di saluran otak atau disebut esephalitis.

dr. Darma menuturkan penyebab dari infeksi otak ini beragam, yang paling sering adalah akibat penularan virus yang langsung dari udara atau pernapasan, dari gigitan serangga seperti nyamuk, bakteri seperti pneumokokus atau bakteri infeksi TBC di otak, jamur, parasit seperti toksoplasma dan cacing pita yang kistanya termakan oleh manusia.

"Karena cara penularannya beragam, maka pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menjaga higienitas, sanitasi, kontak dengan tangan bersih sangat penting (rajin cuci tangan), menjaga stamina tubuh agar tetap baik, serta melakukan vaksin IPD untuk bayi dan vaksin meningitis saat mau pergi haji," ungkapnya.

Untuk vaksin saat ini baru tersedia vaksin IPD (Invasive Pneumococcus Disease) yang balita untuk mencegah meningitis akibat bakteri pneumokokus. vaksin ini bisa diberikan saat bayi berusia 2 bulan hingga 9 tahun, tapi harganya terbilang mahal juga yang diberikan untuk calon jamaah haji untuk mencegah bakteri meningitis yang masih menjadi endemis di jazirah Arab.

Dari wipedia, Radang otak (bahasa Inggris: encephalitis) adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.

All about Meningitis (Infeksi Selaput Otak)
Definisi Meningitis
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter (lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial. Meningitis dibagi menjadi dua golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta.

Gambar disamping adalah
jaringan selaput otak.



Meningitis serosa ditandai dengan jumlah sel dan protein yang meninggi disertai cairan serebrospinal yang jernih. Penyebab yang paling sering dijumpai adalah kuman Tuberculosis dan virus. Meningitis purulenta atau meningitis bakteri adalah meningitis yang bersifat akut dan menghasilkan eksudat berupa pus serta bukan disebabkan oleh bakteri spesifik maupun virus. Meningitis Meningococcus merupakan meningitis purulenta yang paling sering terjadi. penularan kuman dapat terjadi secara kontak langsung dengan penderita dan droplet infection yaitu terkena percikan ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan cairan tenggorok penderita.
Saluran nafas merupakan port d’entree utama pada penularan penyakit ini. Bakteri-bakteri ini disebarkan pada orang lain melalui pertukaran udara dari pernafasan dan sekresi-sekresi tenggorokan yang masuk secara hematogen (melalui aliran darah) ke dalam cairan serebrospinal dan memperbanyak diri didalamnya sehingga menimbulkan peradangan pada selaput otak dan otak.

Infectious Agent Meningitis

Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, cacing dan protozoa. Penyebab paling sering adalah virus dan bakteri. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat.

Infectious Agent meningitis purulenta mempunyai kecenderungan pada golongan umur tertentu, yaitu golongan neonatus paling banyak disebabkan oleh E.Coli, S.beta hemolitikus dan Listeria monositogenes. Golongan umur dibawah 5 tahun (balita) disebabkan oleh H.influenzae, Meningococcus dan Pneumococcus. Golongan umur 5-20 tahun disebabkan oleh Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis dan Streptococcus Pneumococcus, dan pada usia dewasa (>20 tahun) disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus, Stafilocccus, Streptococcus dan Listeria.20 Penyebab meningitis serosa yang paling banyak ditemukan adalah kuman Tuberculosis dan virus.

Meningitis yang disebabkan oleh virus mempunyai prognosis yang lebih baik, cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Penyebab meningitis virus yang paling sering ditemukan yaitu Mumpsvirus, Echovirus, dan Coxsackie virus , sedangkan Herpes simplex , Herpes zooster, dan enterovirus jarang menjadi penyebab meningitis aseptik(viral).

Anatomi dan Fisiologi Selaput Otak

Otak dan sum-sum tulang belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan sekresi cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:


Lapisan Luar (Durameter)
Durameter merupakan tempat yang tidak kenyal yang membungkus otak, sumsum tulang belakang, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Durameter terbagi lagi atas durameter bagian luar yang disebut selaput tulang tengkorak (periosteum) dan durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak untuk membentuk falks serebrum, tentorium serebelum dan diafragma sella.

Lapisan Tengah (Arakhnoid)
Disebut juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara durameter dan arakhnoid disebut ruangan subdural yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai getah bening. Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan vena yang menghubungkan sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh cairan
serebrospinal.

Lapisan Dalam (Piameter)
Lapisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Lapisan ini melekat erat dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. Ruangan diantara arakhnoid dan piameter disebut sub arakhnoid. Pada reaksi radang ruangan ini berisi sel radang. Disini mengalir cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang.

Patofisiologi Meningitis
Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ atau jaringan tubuh yang lain. Virus / bakteri menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit Faringitis, Tonsilitis, Pneumonia, Bronchopneumonia dan Endokarditis. Penyebaran bakteri/virus dapat pula secara perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput otak, misalnya Abses otak, Otitis Media, Mastoiditis, Trombosis sinus kavernosus dan Sinusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak. Invasi kuman-kuman ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS (Cairan Serebrospinal) dan sistem ventrikulus.

Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat. Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua selsel plasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan, bagian luar mengandung leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisaan dalam terdapat makrofag.

Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuronneuron. Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen menyebabkan kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus, cairan serebrospinal tampak jernih dibandingkan Meningitis yang disebabkan oleh bakteri.

Gejala Klinis Meningitis
Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas mendadak, letargi, muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal.

Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang disebabkan oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise, kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi kuman ke susunan saraf pusat. Pada meningitis yang disebabkan oleh Echovirus ditandai dengan keluhan sakit kepala, muntah, sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai dengan timbulnya ruam makopapular yang tidak gatal di daerah wajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas.

Gejala yang tampak pada meningitis Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit kepala, muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung. Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi secara akut dengan gejala panas tinggi, mual, muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan berkurang, dehidrasi dan konstipasi, biasanya selalu ditandai dengan fontanella yang mencembung. Kejang dialami lebih kurang 44 % anak dengan penyebab Haemophilus influenzae, 25 % oleh Streptococcus pneumoniae, 21 % oleh Streptococcus, dan 10 % oleh infeksi Meningococcus. Pada anak-anak dan dewasa biasanya dimulai dengan gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga bersifat akut dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot dan nyeri punggung. Cairan serebrospinal tampak kabur, keruh atau purulen.

Meningitis Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium I atau stadium prodormal selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak seperti gejala infeksi biasa. Pada anak-anak, permulaan penyakit bersifat subakut, sering tanpa demam, muntah-muntah, nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun, mudah tersinggung, cengeng, opstipasi, pola tidur terganggu dan gangguan kesadaran berupa apatis. Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi, kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangat gelisah.

Stadium II atau stadium transisi berlangsung selama 1 – 3 minggu dengan gejala penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang hebat dan kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Tanda-tanda rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku, terdapat tanda-tanda peningkatan intrakranial, ubun-ubun menonjol dan muntah lebih hebat. Stadium III atau stadium terminal ditandai dengan kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma. Pada stadium ini penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak mendapat pengobatan sebagaimana mestinya.

Pemeriksaan Rangsangan Meningeal
Pemeriksaan Kaku Kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi dan rotasi kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme otot. Dagu tidak dapat disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi kepala.

Pemeriksaan Tanda Kernig
Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa nyeri. Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135° (kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti rasa nyeri.

Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)
Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya dibawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi kepala dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.

Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi panggul (seperti pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan lutut kontralateral.


Pemeriksaan Penunjang Meningitis

Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
a. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
b. Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+) beberapa jenis bakteri.

Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap Darah (LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
a. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping itu, pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
b. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.

Pemeriksaan Radiologis
a. Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin dilakukan CT Scan.
b. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus paranasal, gigi geligi) dan foto dada.


Epidemilogi Meningitis

Distribusi Frekuensi Meningitis
a. Orang/ Manusia
Umur dan daya tahan tubuh sangat mempengaruhi terjadinya meningitis. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan distribusi terlihat lebih nyata pada bayi. Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna. Puncak insidensi kasus meningitis karena Haemophilus influenzae di negara berkembang adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan, sedangkan di Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan. Sebelum tahun 1990 atau sebelum adanya vaksin untuk Haemophilus influenzae tipe b di Amerika Serikat, kira-kira 12.000 kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada umur 5 tahun. Insidens Rate pada usia 5 tahun sebesar 40-100 per 100.000. Setelah 10 tahun penggunaan vaksin, Insidens Rate menjadi 2,2 per 100.000.9 Di Uganda (2001-2002) Insidens Rate meningitis Hib pada usia 5 tahun sebesar 88 per 100.000.

b. Tempat
Risiko penularan meningitis umumnya terjadi pada keadaan sosio-ekonomi rendah, lingkungan yang padat (seperti asrama, kamp-kamp tentara dan jemaah haji), dan penyakit ISPA. Penyakit meningitis banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju. Insidensi tertinggi terjadi di daerah yang disebut dengan the African Meningitis belt, yang luas wilayahnya membentang dari Senegal sampai ke Ethiopia meliputi 21 negara. Kejadian penyakit ini terjadi secara sporadis dengan Insidens Rate 1-20 per 100.000 penduduk dan diselingi dengan KLB besar secara periodik.

Di daerah Malawi, Afrika pada tahun 2002 Insidens Rate meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae 20-40 per 100.000 penduduk.

c. Waktu
Kejadian meningitis lebih sering terjadi pada musim panas dimana kasuskasus infeksi saluran pernafasan juga meningkat. Di Eropa dan Amerika utara insidensi infeksi Meningococcus lebih tinggi pada musim dingin dan musim semi sedangkan di daerah Sub-Sahara puncaknya terjadi pada musim kering. Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Di Amerika Serikat pada tahun 1981 Insidens Rate meningitis virus sebesar 10,9 per 100.000 Penduduk dan sebagian besar kasus terjadi pada musim panas.

Determinan Meningitis
a. Host/ Pejamu
Meningitis yang disebabkan oleh Pneumococcus paling sering menyerang bayi di bawah usia dua tahun. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus 3,4 kali lebih besar pada anak kulit hitam dibandingkan yang berkulit putih. Meningitis Tuberkulosa dapat terjadi pada setiap kelompok umur tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan sampai 5 tahun dan jarang pada usia di bawah 6 bulan kecuali bila angka kejadian Tuberkulosa paru sangat tinggi. Diagnosa pada anak-anak ditandai dengan test Mantoux positif dan terjadinya gejala meningitis setelah beberapa hari mendapat suntikan BCG.

Penelitian yang dilakukan oleh Nofareni(1997-2000) di RSUP H.Adam Malik menemukan odds ratio anak yang sudah mendapat imunisasi BCG untuk menderita meningitis Tuberculosis sebesar 0,2.

Penelitian yang dilakukan oleh Ainur Rofiq (2000) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengenai daya lindung vaksin TBC terhadap meningitis Tuberculosis pada anak menunjukkan penurunan resiko terjadinya meningitis Tb pada anak sebanyak 0,72 kali bila penderita diberi BCG dibanding dengan penderita yang tidak pernah diberikan BCG.

Meningitis serosa dengan penyebab virus terutama menyerang anak-anak dan dewasa muda (12-18 tahun). Meningitis virus dapat terjadi waktu orang menderita campak, Gondongan (Mumps) atau penyakit infeksi virus lainnya. Meningitis Mumpsvirus sering terjadi pada kelompok umur 5-15 tahun dan lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan.21 Penelitian yang dilakukan di Korea (Lee,2005) , menunjukkan resiko laki-laki untuk menderita meningitis dua kali lebih besar dibanding perempuan.

b. Agent (Penginveksi terbesar ialah bakteri Pneumoccocus)
Penyebab meningitis secara umum adalah bakteri dan virus. Meningitis purulenta paling sering disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus dan Haemophilus influenzae sedangkan meningitis serosa disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa dan virus. Bakteri Pneumococcus adalah salah satu penyebab meningitis terparah. Sebanyak 20-30 % pasien meninggal akibat meningitis hanya dalam waktu 24 jam. Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia.

Meningitis Meningococcus yang sering mewabah di kalangan jemaah haji dan dapat menyebabkan karier disebabkan oleh Neisseria meningitidis serogrup A,B,C,X,Y,Z dan W 135. Grup A,B dan C sebagai penyebab 90% dari penderita. Di Eropa dan Amerika Latin, grup B dan C sebagai penyebab utama sedangkan di Afrika dan Asia penyebabnya adalah grup A. Wabah meningitis Meningococcus yang terjadi di Arab Saudi selama ibadah haji tahun 2000 menunjukkan bahwa 64% merupakan serogroup W135 dan 36% serogroup A. Hal ini merupakan wabah meningitis Meningococcus terbesar pertama di dunia yang disebabkan oleh serogroup
W135. Secara epidemiologi serogrup A,B,dan C paling banyak menimbulkan penyakit.

Meningitis karena virus termasuk penyakit yang ringan. Gejalanya mirip sakit flu biasa dan umumnya penderita dapat sembuh sendiri. Pada waktu terjadi KLB Mumps, virus ini diketahui sebagai penyebab dari 25 % kasus meningitis aseptik pada orang yang tidak diimunisasi. Virus Coxsackie grup B merupakan penyebab dari 33% kasus meningitis aseptik, Echovirus dan Enterovirus merupakan penyebab dari 50% kasus. Resiko untuk terkena aseptik meningitis pada laki-laki 2 kali lebih sering dibanding perempuan.

c. Lingkungan
Faktor Lingkungan (Environment) yang mempengaruhi terjadinya meningitis bakteri yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe b adalah lingkungan dengan kebersihan yang buruk dan padat dimana terjadi kontak atau hidup serumah dengan penderita infeksi saluran pernafasan.27 Risiko penularan meningitis Meningococcus juga meningkat pada lingkungan yang padat seperti asrama, kampkamp tentara dan jemaah haji.

Pada umumnya frekuensi Mycobacterium tuberculosa selalu sebanding dengan frekuensi infeksi Tuberculosa paru. Jadi dipengaruhi keadaan sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Penyakit ini kebanyakan terdapat pada penduduk dengan keadaan sosial ekonomi rendah, lingkungan kumuh dan padat, serta tidak mendapat imunisasi.

Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Lebih sering dijumpai pada anak-anak daripada orang dewasa. Kebanyakan kasus dijumpai setelah infeksi saluran pernafasan bagian atas.

Prognosis Meningitis
Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis meningitis dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus, anak-anak dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin jelek, yaitu dapat menimbulkan cacat berat dan kematian.

Pengobatan antibiotika yang adekuat dapat menurunkan mortalitas meningitis purulenta, tetapi 50% dari penderita yang selamat akan mengalami sequelle (akibat sisa). Lima puluh persen meningitis purulenta mengakibatkan kecacatan seperti ketulian, keterlambatan berbicara dan gangguan perkembangan mental, dan 5 – 10% penderita mengalami kematian.

Pada meningitis Tuberkulosa, angka kecacatan dan kematian pada umumnya tinggi. Prognosa jelek pada bayi dan orang tua. Angka kematian meningitis TBC dipengaruhi oleh umur dan pada stadium berapa penderita mencari pengobatan. Penderita dapat meninggal dalam waktu 6-8 minggu. Penderita meningitis karena virus biasanya menunjukkan gejala klinis yang lebih ringan,penurunan kesadaran jarang ditemukan. Meningitis viral memiliki prognosis yang jauh lebih baik. Sebagian penderita sembuh dalam 1 – 2 minggu dan dengan pengobatan yang tepat penyembuhan total bisa terjadi.

Pencegahan Meningitis
a. Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko meningitis bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup sehat. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis pada bayi agar dapat membentuk kekebalan tubuh. Vaksin yang dapat diberikan seperti Haemophilus influenzae type b (Hib), Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), Pneumococcal polysaccaharide vaccine (PPV), Meningococcal conjugate vaccine (MCV4), dan MMR (Measles dan Rubella). Imunisasi Hib Conjugate vaccine (Hb- OC atau PRP-OMP) dimulai sejak usia 2 bulan dan dapat digunakan bersamaan dengan jadwal imunisasi lain seperti DPT, Polio dan MMR. Vaksinasi Hib dapatmelindungi bayi dari kemungkinan terkena meningitis Hib hingga 97%. Pemberian imunisasi vaksin Hib yang telah direkomendasikan oleh WHO, pada bayi 2-6 bulan sebanyak 3 dosis dengan interval satu bulan, bayi 7-12 bulan di berikan 2 dosis dengan interval waktu satu bulan, anak 1-5 tahun cukup diberikan satu dosis. Jenis imunisasi ini tidak dianjurkan diberikan pada bayi di bawah 2 bulan karena dinilai belum dapat membentuk antibodi.

Meningitis Meningococcus dapat dicegah dengan pemberian kemoprofilaksis
(antibiotik) kepada orang yang kontak dekat atau hidup serumah dengan penderita.Vaksin yang dianjurkan adalah jenis vaksin tetravalen A, C, W135 dan Y. meningitis TBC dapat dicegah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian imunisasi BCG. Hunian sebaiknya memenuhi syarat kesehatan, seperti tidak over crowded (luas lantai > 4,5 m2 /orang), ventilasi 10 – 20% dari luas lantai dan pencahayaan yang cukup. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak langsung dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan dilingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan kapal. Meningitis juga dapat dicegah dengan cara meningkatkan personal hygiene seperti mencuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah dari toilet.

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal, saat masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan awal dapat menghentikan perjalanan penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan segera. Deteksi dini juga dapat ditingkatan dengan mendidik petugas kesehatan serta keluarga untuk mengenali gejala awal meningitis.

Dalam mendiagnosa penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan cairan otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah dan pemeriksaan X-ray (rontgen) paru
Selain itu juga dapat dilakukan surveilans ketat terhadap anggota keluarga penderita, rumah penitipan anak dan kontak dekat lainnya untuk menemukan penderita secara dini. Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis penyebab meningitis yaitu :

1. Meningitis Purulenta
1.1. Haemophilus influenzae b : ampisilin, kloramfenikol, setofaksim, seftriakson.
1.2. Streptococcus pneumonia : kloramfenikol , sefuroksim, penisilin, seftriakson.
1.3. Neisseria meningitidies : penisilin, kloramfenikol, serufoksim dan seftriakson.

2. Meningitis Tuberkulosa (Meningitis Serosa)
Kombinasi INH, rifampisin, dan pyrazinamide dan pada kasus yang berat dapat ditambahkan etambutol atau streptomisin. Kortikosteroid berupa prednison digunakan sebagai anti inflamasi yang dapat menurunkan tekanan intrakranial dan mengobati edema otak.


c. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat pencegahan ini bertujuan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan akibat meningitis, dan membantu penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisikondisi yang tidak diobati lagi, dan mengurangi kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis jangka panjang misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk
belajar. Fisioterapi dan rehabilitasi juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.

(Dari Skripsi USU/ nemoto3000.blogspot.com/ detikhealth)